Rabb… You are the Highest…
to You I always pray..
to You I always tell..
to You I always complain..
Please annihilate all of these mind & body weaknessess…
You are the Almighty of everything…
Please let me win my goal ya Rabb…
Rabb… You are the Highest…
to You I always pray..
to You I always tell..
to You I always complain..
Please annihilate all of these mind & body weaknessess…
You are the Almighty of everything…
Please let me win my goal ya Rabb…
Rabb… You are the Highest…
to You I always pray..
to You I always tell..
to You I always complain..
Please annihilate all of these mind & body weaknessess…
You are the Almighty of everything…
Please let me win my goal ya Rabb…
The people in your life are there for a reason.
They either stay a while or stay for a really long time.
It’s about making every connection something more,
…something special
…something memorable.
In the end, whether the person stays or goes, you can look back and smile.
Because you know, you were the best person you could be.
live the life, without regret.
wahai kawan, cobalah duduk & simak ceritaku ini.
cerita tentang seorang perempuan yg tegar.
ia melahirkan anak pertama dengan bersimbah darah, sungsang, benar2 antara hidup dan mati
entah berapa kantong darah yg telah terbuang,
nyawanya hampir melayang saat perjalanan di ambulan malam itu,
aku tidak tau detail hal itu krn saat itu adalah waktu pertama kali aku melihat dunia
tapi begitulah aku diceritakan oleh orang2 disekitarku.
anak kedua, ketiga & keempat pun persis sama,
nyawanya berada antara hidup & mati,
saat giliran yang terakhir lahir, perut beliau terpaksa dibelah untuk menyelamatkan dua nyawa saat itu, 7 tahun lalu.
namun semua penderitaan itu tidak pernah menyurutkan ketulusan hatinya utk melakukan hal terbaik bagi org2 yg hampir merenggut nyawanya.
ia mengajarkan anak2nya tersebut utk mengenal Rabb penguasa alam semesa
ia mengajarkan anak2nya tersebut tentang ayat suci dengan penuh kasih sayang
ia mengajarkan anak2nya tersebut tentang cara sholat dengan cara yang lembut
ia mengajarkan anak2nya tersebut tentang cinta, cara mencintai & dicintai
ia mengajarkan anak2nya tersebut arah & tujuan hidup
hati ini rindu pada perempuan itu,
rindu pada belaian kasih sayang yang selalu ada saat diri ini jatuh,
rindu pada bisikan semangat yang selalu ada saat diri ini lemah,
rindu pada suara lembut yang dibisikkan pada saat diri ini berkeluh kesah
rindu pada bisikan keberanian yang diberikan pada saat diri ini tertindas
semua karena cintanya ku mampu bertahan,
semua karena cintanya ku mampu menjalani hidup dengan tenang
perempuan itu bersifat layaknya malaikat penjagaku,
perempuan itu adalah ibuku, ibu terbaik diseluruh alam semesta.
ibu,
terima kasih atas semua cintamu yang membuatku kuat,
semoga perjuangan & pengorbananmu membuatmu tergolong sebagai syahidah & golongan org yang dirindukan jannah Rabb kita.
semoga pandawa lima yang keluar dari rahimmu tidak membuatmu kecewa & melupakan ajaranmu utk mengenal Rabbi,
Ya Rabb,
terima kasih atas karunia ibu yang telah Engkau berikan pada kami
ampuni dosa ibuku,
muliakanlah ibuku,
sayangilah ibuku seperti ia menyayangi kami,
berikanlah padanya kebahagiaan didunia,
& berikanlah surga-Mu yg terindah utk ibuku.
Jakarta, 5 ramadhan 1432H (5 agustus 2011)
Melihat lebih jauh
oleh: Herry Tjahjono
Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.
Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu.
Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.
Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak. Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job! Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu ”memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim. Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing. Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.
Herry Tjahjono
Corporate Culture Therapist & President The XO Way, Jakarta
Kita tentu masih mengingat, siapa sosok Bilal bin Rabbah ra. Salah satu tokoh dalam sejarah Islam yang mengukirkan namanya dengan tinta emas, meski awal sejarah hidupnya adalah orang yang papah, tak dihargai, budak yang diperjualbeli dan mungkin tak dipandang sebelah mata. Lalu dengan Islam, nama Bilal bin Rabbah ra menjadi mulia, bahkan menjadi rujukan amal-amal shalih yang kita lakukan saat ini.
Kita juga ingat sosok Abu Dzar al Ghiffary ra, seorang manusia yang mencari kebenaran dengan seluruh hidupnya. Menebus kebenaran dengan nyawa. Membela kebenaran dengan seluruh keberanian jiwanya. Dua manusia mulia yang pernah dilahirkan oleh sejarah Islam, hasil dari tarbiyah Rasulullah saw.
Suatu ketika, keduanya pernah berselisih pendapat. Entah karena didorong rasa apa, Abu Dzar ra sampai mengucapkan kata-kata yang sangat menyinggung Bilal bin Rabbah ra. “Hai, anak orang hitam!” kata Abu Dzar ra pada Bilal bin Rabbah ra.
Sahabat Bilal sangat sedih, dan mengadukan hal ini pada Rasulullah saw, sang pemimpin yang adil dan penuh kasih sayang. Setelah mendengar pengaduan sahabatnya Bilal, Rasulullah memanggil dan mengajak Abu Dzar berbicara.
Singkat cerita, setelah obrolan bersama Rasulullah tersebut, Abu Dzar menyadari betul ada sifat dan perilaku jahiliyah yang masih tertinggal dan dilakukannya. Abu Dzar merasa, seharusnya tak terjadi hal yang demikian, apalagi pada sahabat sendiri yang telah dimuliakan oleh Islam dan memuliakan Islam.
Dengan sungguh-sungguh, kemudian Abu Dzar mencari Bilal bin Rabbah. Ketika menemui Bilal bin Rabbah, Abu Dzar duduk dengan penuh takzim di depannya. Kemudian Abu Dzar meminta maaf, ia tempelkan sebelah pipinya ke tanah dan berkata, ”Wahai Bilal, injaklah pipiku dengan kakimu.”
Subhanallah, ini adalah catatan sejarah tentang keseriusan permintaan maaf. Betapa banyak hari ini kita melakukan kesalahan, lalu sebesar apa perasaan bersalah itu muncul ke permukaan. Semendalam apa penyesalan kita atas kesalahan yang telah kita lakukan. Sekuat apa kita memperbaikinya, atau jika menyangkut orang lain, sedahsyat apa usaha permintaan maaf yang sudah kita lakukan?
Secara bahasa, kita sering mengganti perkataan ”maaf” dengan kata ”sorry” yang sering diucapkan dengan hambar dan nyaris tak berarti. Secara bahasa kita sering mengganti kata ”maaf” dengan mengucakan ”afwan” yang kita keluarkan dengan sangat ringan. Tapi kita lupa menitipkan kesungguhan di sana. Kita alpa meletakkan ruh pada kata maaf, sorry dan afwan. Karena, kita tidak benar-benar merasa bersalah atas sebuah perbuatan, pada seorang teman, pada banyak orang, pada orangtua, pada saudara, pada bawahan, pada pemimpin, pada rakyat yang dipimpin, pada jamaah, pada qiyadah, pada orang-orang yang tanpa sepengetahuan kita menganggap sangat besar kesalahan yang kita lakukan.
Lihat pertunjukan kolosal yang kita saksikan hari ini, tentang pelajaran menghindar dari kesalahan. Ada jumpa pers yang digelar untuk membela diri. Ada selebaran yang dibuat untuk klarifikasi. SMS bertebaran untuk menjelaskan ulang. Sumpah menyebut nama anak dan istri di depan seluruh rakyat Indonesia di dalam siaran televisi. Pidato politik yang sangat melankoli untuk mengubah kesalahan menjadi undangan gelombang simpati.
Tak ada yang mengakui kesalahan dengan gagah berani. Tapi sesungguhnya, ini sama sekali bukan tentang gagah atau berani, atau digabungkan sekaligus, gagah berani. Ini tentang masa depan yang lebih baik. Masa depan yang lebih baik antara dua orang yang berseteru dan berselisih paham. Masa depan yang lebih baik untuk banyak orang yang telah merasa dirugikan. Masa depan yang lebih baik untuk harapan tentan penegakan keadilan dan pembelaan kebenaran. Masa depan yang lebih baik untuk kemanusiaan!
Kata maaf, melibatkan dua komponen vital yang sangat besar. Pertama, tentang rasa bersalah dan niat memperbaiki keadaan. Kedua, ikhlas membuka pintu maaf dan juga memperbaiki keadaan.
Sesuai urutannya, tentu saja yang pertama menempati posisi yang sangat krusial. Ketika kita sudah menyadari kesalahan dan berniat memperbaiki keadaan, mari kita tanyakan pada diri sendiri. Seberapa serius kah permintaan maaf yang sudah kita lakukan?
sumber:perspektif herry nurdi
It does really matter…
expand for nothing or compress for the real thing!
drive out do something unnecessary…now or never!
Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur.Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.
Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.
Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda.Hmm…kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras.
Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata- mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.
Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu…
Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Sahabat,
Semuanya…
Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.
Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan
saat menatap wajah lugu yang terlelap itu.
Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.
Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selau saja nampak besar.
Secara ajaib Alloh mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.
Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya.
Tanpa kata, tanpa suara dia berkata… “betapa lelahnya aku hari ini”. Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.
Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka.
Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua.
Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya,
untuk selamanya….
Di saat ajal kan datang menjelang
Malaikat Izroil mainkan peran
Nyawa tercabut tubuhpun meregang
Allahu Akbar janjiMu tlah datang
Lidahpun kelu bibirpun membisu
Seluruh tubuh kaku dan membeku
Kenikmatan duniapun berlalu
Mohon ampunan sudah berlaku
Tiada lagi tempat pertolongan
Kecuali amal dan perbuatan
Semasa hidup membentang jaman
Ridlo Illahi yang didambakan
Sebesar dzarahpun diperhitungkan
Kebaikan yang tlah kita amalkan
Sebesar dzarahpun diperhitungkan
Keburukan yang tlah kita lakukan
“disaat ajal kan datang menjelang”
snada
Wahai Sang Penguasa yg mmberikan kami hati (makna hati = tdk tetap/cendrung berubah),berikan kpd kami iman yg jauh brtmbah saat hati kami cendrung pada-Mu,dan kalau bs jgn kurangi keimanan kami saat hati ini lupa mengingat-Mu…